Menangkal Hoax, Menjaga Persatuan

355
5/5 - (1 vote)

Pakar politik nasional dari CSIS, J. Kristiadi, menjadi narasumber kedua dalam talkshow ini. Ia mengajak audiens untuk memahami contoh-contoh kasus politik yang dipengaruhi oleh hoax. Menurutnya, eskalasi politik nasional masih akan diwarnai oleh politik identitas.

Penyesatan informasi publik berjalan kencang di media sosial dan netizen cenderung menyukai kegaduhan politik bahkan ikut meramaikannya. Ia mencontohkan Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 dimana pertarungan gagasan justru digantikan oleh ujaran kebencian, kemarahan, dan permusuhan bernuansa primordial di media sosial. Meskipun demikian, ia menyerukan, “Siapapun yang menang dalam pemilu, Indonesia-lah yang harus menang!”

Pakar politik nasional dari CSIS, J. Kristiadi, narasumber kedua talkshow, menyampaikan materi. [dok.Ditto Santoso]
Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Paulus Haruna yang juga hadir sebagai keynote speaker dalam talkshow ini menggarisbawahi bahwa media sosial pun memiliki peran dalam memperkuat pelayanan Gereja dan aspek relasi sosial dalam masyarakat.

Kelompok musik akustik OMK mengiringi talkshow.

“Umat harus cerdas bermedia sosial. Jangan sekadar men-sharing tanpa menyaring. Sementara Gereja juga berharap agar media-media yang ada juga memandu dan memberikan jalan bagi informasi yang benar, bukan malah memelintir informasi,” pungkas Pastor Haruna, demikian ia akrab dipanggil.

 

Kegiatan talkshow yang berlangsung di Sekolah Maria, Sukatani, Depok, ini diikuti oleh 110 peserta. Di sela-sela diskusi ada kelompok pemusik akustik yang terdiri atas anggota-anggota OMK Kuasi Paroki Bunda Maria Ratu Sukatani.

Deklarasi umat Kuasi Paroki BMR anti hoax.

Kegiatan ini diakhiri dengan pernyataan sikap bersama untuk menangkal hoax dan menjaga persatuan antar umat dan warga masyarakat umumnya.

 

Ditto Santoso

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here