Inti Eksorsisme: Iman dan Doa

536

HIDUPKATOLIK.com – Sir. 1:1-10; Mzm. 93:1-5; Mrk. 9:14-29

SERING, dalam upaya menyelesaikan masalah berat, kita berkonsultasi seperti “orang banyak yang mengerumuni para  murid Yesus dan para ahli Taurat” (ay. 14). Ternyata hal itu gagal. Mengapa? Karena kita abai memakai jalan iman, begitu kritik Yesus.

Masalah yang dihadapi ayah anak yang kerasukan roh itu (ay. 17. 24), istimewa. Manifestasi roh itu sangat dahsyat. Sejak kecil, ia membuat anak itu bisu dan tuli, dan mulut berbusa, roh itu bahkan sering menyeret anak itu ke api dan air untuk dibinasakan.

Namun, secara tuntas, Yesus mengusir roh jahat itu. “Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari anak ini, dan jangan memasukinya lagi!” (ay.25). Yesus menyebut itu (Yun. pneuma alalon (kai) kōphon) sebagai “jenis khusus”, yang tidak dapat diusir kecuali dengan iman dan berdoa (ay. 29, cf. ay. 19 dan 24).

Mengapa? “Dalam tradisi eksorsisme, setan adalah “pendusta dan bapa segala dusta” (Yoh. 8:44; juga Kis. 5:3). Maka, ketika ia dipaksa untuk bicara dan menyebutkan namanya—dan itu sering dihindarinya—, setan pun merasa mulai ditaklukkan.

Iman sejati yang disertai doa (lih. Mrk. 11:22-24) merupakan inti eksorsisme. Iman itu bukan alat mekanis pengusiran setan. Iman adalah sikap menyerahkan dan mengandalkan diri sepenuhnya pada kehendak, rencana, tangan, dan karya Allah.

Inilah pula yang ditekankan oleh Paus Fransiskus dalam beberapa khotbah terkait dengan pergolakan dunia dan Gereja, September dan Oktober 2018 lalu. “Jangan memakai logika ‘si Pendusta Besar’, tetapi pakailah kekuatan doa, penyerahan kepada Yesus, kerendahan hati, serta kedekatan yang tanpa putus dengan umat.

Logika si Pendusta Besar adalah selalu menuduh dan mendakwa ‘yang lain’ (lih. Why.
12:10),” ungkapnya.

 

 

Henricus Witdarmono
M.A. Rel. Stud. Katholieke Universiteit te Leuven, Belgia

HIDUP NO.8 2019, 24 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here