Jangan Nodai Jubahmu dengan Darahku

583
2.3/5 - (3 votes)

“Kami bantu mendoakannya. Semoga Tuhan merestui niat baiknya,” bisik mereka sebelum meninggalkan ruang doa.

Terus terang, aku sendiri tak terlalu paham kriteria seseorang jadi frater. Yang aku tahu, orang harus memiliki cara hidup yang bagus. Kurang lebih aspek moral dan kehidupan spiritualnya unggul. Itu saja. Perihal Wawan, bukan berarti aku tidak mendukung panggilannya. Tapi aku hanya mengatakan, menjadi biarawan itu mengandaikan pribadi orang yang mantap. Sebab suatu saat nanti ia harus bertanggung jawab pada ketiga kaulnya: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Setelah menimbang-nimbang semua itu, bagiku ini kekeliruan, kalau tak mau dibilang gila.

Benar, menjadi frater itu panggilan mulia. Itu predikat yang dicita-citakan banyak orangtua di kampungku agar kelak anak laki-laki mereka jadi frater. Sebab jadi frater itu disegani banyak orang, derajat keluarga bisa naik, dan tak ada orang yang berani meremehkan posisi keluarga, selain karena frater dikenal dekat dengan Tuhan, juga dikenal orang pintar. Itulah sebabnya, kini Pak RT jadi orang yang paling dihormati, baik di lingkungan atau pun dalam kehidupan menggereja. Kehidupan Pak RT sudah bahagia, begitu orang-orang menyebutnya sekarang.

***

Malam itu, sayup-sayup terdengar Pak RT berteriak-teriak di rumahnya. Orang-orang berdatangan ke kedai kopi Mbak Nung untuk mendengarkan dari dekat. Beberapa dari mereka kemudian kasak-kusuk membicarakan sesuatu di antara mereka.

“Ah, betapa bahagianya punya anak frater seperti Pak RT. Kebahagiaan bisa datang kapan saja,” begitulah bisik orang-orang itu iri.

“Andaikata status frater bisa dibeli, aku bakal membelikan tiga status buat ketiga anakku supaya keluargaku diberkahi kebahagiaan,” lanjut seseorang cemburu pada kehidupan Pak RT.

Itulah sebabnya betapa mengagetkan, ketika terdengar kabar, Pak RT mati gantung diri malam itu. Mayatnya ditemukan di dapur. Mulutnya terbuka. Tapi tangan kanannya masih memegang ponsel yang sedang menyala. Beberapa orang memberanikan diri melongok ke layar handphone mencari-cari informasi terkait kabar kematiannya.

Sungguh informasi yang mengejutkan, nyaris tak bisa dipercaya. Wawan dipastikan keluar dari biara karena terbukti melakukan skandal seksual. Adalah seorang wanita bernama Ratih yang sering keluar masuk biara, minta pertanggung jawaban Wawan terkait bayi yang sedang dikandungnya. Wanita itu kini menghilang entah ke mana tak seorang pun tahu. Begitulah pesan singkat di ponsel Pak RT.

***

Waktu itu hari Selasa malam. Tak seperti biasanya kedai kopi Mbak Nung bisa seramai malam itu. Meski sudah pukul dua belas, orang-orang masih berbondong-bondong ke sana. Di sudut-sudut malam yang diam, mereka membacakan ulang isi puisi Ratih sambil berdoa dengan syahdu, “Teman-teman, suatu saat nanti, entah tanggal berapa di bulan Juni yang gigil, aku bakal bunuh diri jika cintaku kandas di tengah jalan.”

Kata mereka, “Bapa kami yang ada di surga, jangan masukan kami ke dalam pencobaan tetapi bebaskan kami dari yang jahat. Amin.”

R. Fahik

HIDUP NO.20 2019, 19 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here