In Memoriam Hans Kueng: Melihat Melampaui Kontroversi “Infalibilitas”

267
Hans Küng (paling kanan) suatu saat berkunjung ke Indonesia berfoto bersama Pastor Franz-Magnis Suseno, SJ dan Penulis (Trisno S. Sutanto, kiri). (Foto: Dokpri: Trisno S. Sutanto)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – KABAR meninggalnya Prof. Hans Kueng mengejutkan karena tidak terdengar kabar ia sakit. Memang usianya melampaui “bonus” Mazmur 90 itu: umur manusia 70 tahun, 80 jika kuat. Ia adalah teolog besar yang melewatkan sebagian besar waktunya di Tuebingen, bersama beberapa nama besar lain (J. Moltmann, D. Mieteh, K-J. Kuschel, E. Juengel, dll.). Ia meninggal di kediamannya di sana. Kueng termasuk salah satu teolog Katolik yang produktif. Ia pernah terlibat sebagai peritus dalam Konsili Vatikan II, bersama nama besar lain seperti Rahner, Schillebeeckx, Ratzinger, Congar, dll.

Namun pasca-Vatikan II ia mendapat larangan mengajar teologi dari Roma. Hal itu terjadi saat bukunya, Infalible? An Enquiry (1971), dalam rangka peringatan seabad Vatikan-I. Buku itu menjadi kontroversial dan mendapat tentangan Roma (1979). Itu bisa dimengerti karena buku itu berhadapan frontal dengan salah satu penetapan Konsili Vatikan I (1870-1871), Infalibilitas Paus.

Terlepas dari itu, Kueng mempunyai tendensi dialogis yang kuat. Ia mau berdialog dengan dunia, dengan semua yang berkehendak baik. Dalam tulisan ini saya tidak mengarahkan perhatian besar pada buku kontroversial itu, melainkan melihat sepak terjang Kueng dalam bingkai yang lebih besar yang melampaui kontroversi tadi.

Karya Bidang Teologi

Selain buku kontroversial tadi, Kueng masih menghasilkan banyak buku teologi lain. Richard P. McBrien (2008), memberi kesaksian bahwa buku The Church (1967) dari Kueng merupakan satu-satunya buku utama terbit pasca-Vatikan II yang berbicara tentang eklesiologi. Bahkan buku ini juga merupakan pertama, sebelum dan sesudah Vatikan-II, yang menempatkan misteri Gereja dalam konteks luas Kerajaan Allah.

Buku itu dilanjutkan dengan buku On Being a Christian (1976). Larangan Roma, tidak menghentikan langkah dia untuk terus berkarya di bidang teologi. Tahun 1985, via kerja-sama dengan beberapa pihak, terutama dengan teolog Chicago, David Tracy, Prof. Kueng mengadakan simposium internasional dengan mengambil topik besar, paradigm change in theology. Ini adalah proyek besar karena melibatkan banyak pakar baik teologi maupun filsafat, bahkan sains karena gagasan paradigm change ini pasti dipengaruhi oleh pemikiran filosofis Thomas Kuhn (tidak hadir dalam simposium itu tetapi kiranya terwakili oleh sesama ilmuwan sains, Stephan Toulmin).

Sepak terjang Prof. Kueng semakin terkenal karena tahun 1993 ia mengeluarkan buku berjudul, Global Ethics. Buku ini berbicara tentang panggilan etis agama-agama untuk berdialog. Terkenallah beberapa kutipan buku ini di kalangan pegiat teologi dan dialog agama-agama. Tidak ada kedamaian di antara bangsa-bangsa tanpa kedamaian di antara agama-agama. Agama-agama bisa terbuka dan berdialog dengan mencari titik temu di bidang etis (karena kultis pasti berbeda). Kepekaan etis manusia kiranya sama misalnya tendensi untuk mencintai, tidak boleh membunuh, berbuat adil, berbuat jujur, tidak melukai sesama, tidak mencuri, dan lain-lain.

Buku itu adalah bagian utuh dari perayaan seratus tahun Parlemen Dunia Agama-agama (World Parliament of Religion) yang pertama kali mengadakan pertemuan tahun 1893 di Chicago dan tahun 1993 merayakan peringatan 100 tahun. Parlemen ini adalah suatu tanda bahwa pada jaman sekarang ini agama-agama semakin merasa terpanggil untuk menjauh dari tendensi-tendensi perpisahan dan perpecahan dan saling curiga. Sebaliknya mereka semakin tergerak untuk memasuki zaman baru, jaman persahabatan, zaman persaudaraan, jaman dialog, beralih dari nafsu conversion (mempertobatkan) menuju ke semangat conversation (dialog, percakapan).

Kiranya dalam semangat itulah Prof. Kueng kemudian menghasilkan beberapa buku fundamental lain yang tebal-tebal. Itu adalah hasil dari sebuah ketekunan dan kerja-keras yang sangat luar biasa. Mungkin karena ia sangat yakin bahwa dialog antaragama yang paling penting ialah dialog di antara tiga agama monoteis yang diklaim sebagai agama-agama dari kaum keturunan Abraham, Yahudi, Kristiani, dan Islam. Dalam ketiga buku ini ia menelusuri masa silam, masa kini, dan masa depan ketiganya dan juga menyoroti sumbangan ketiganya bagi sejarah dunia dan sejarah kemanusiaan.

Spiritualitas, Inti Agama

Saya mau memuncaki obituari Kueng ini dengan melihat bukunya yang bagi saya sangat menarik karena ia mencoba melihat dimensi-dimensi spiritual dari agama-agama di dunia ini. Bagi dia inti agama-agama sebenarnya adalah spiritualitas. Tanpa spiritualitas, agama-agama itu hanya serangkaian aturan-aturan yang kaku, mengikat, dan opresif-represif. Dengan spiritualitas agama-agama menjadi sebuah jalan yang ramah yang terbuka dan serba inklusif, merangkul. Spiritualitas adalah jalan. Intuisi itu ia tuangkan dalam buku Tracing the Way (2002). Di sana ia mau melihat agama-agama sebagai jalan yang ditelusuri oleh pemeluknya dengan tekun. Kemampuan melihat dan menyadari agama-agama sebagai jalan, the way, juga adalah sebentuk perubahan paradigma (paradigm change) dalam wacana teologis agama-agama.

Sebutan jalan, the way, itu menarik, karena sebutan itu bersifat inklusif, sebuah jalan yang terbuka, jauh dari kesan kaku institusional, hirarkis, organisatoris. Jalan itu hidup dan dinamis. Ini menarik, sebab bukankah sudah sejak zaman Perjanjian Baru, orang-orang Kristiani disebut “pengikut jalan”? Sebelum sebutan Christianoi disematkan pada identitas diri orang Kristen (Kis. 11:26), mereka sudah disebut pengikut jalan, jalan lurus, jalan Tuhan (Kis. 9:2). Bahkan sebutan Christianoi itu tidak menyingkirkan sebutan jalan itu (Kis. 13:10; 18:25,26; 19:9,23). Jadi, dengan ini Kueng kembali ke intuisi awal Perjanjian Baru bahwa sama seperti penganut agama lain di dunia ini, orang Kristen pun adalah pengikut jalan, yang dengan tekun menelusuri jalan. Walau bagi orang Kristen jalan itu adalah Yesus: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6).

Panggilan Eklesial

Saya akhiri tulisan ini dengan mengingatkan para teolog bahwa tahun 1990 Kongregasi Ajaran Iman menerbitkan Instruksi yang dari judulnya mengingatkan kita bahwa teolog mempunyai panggilan yang bersifat eklesial. Kreatifitas berteologis mereka harus diarahkan demi kepentingan hidup menggereja, hidup jemaat di akar rumput. Bukan demi kreatifitas dan kebebasan kreatif itu sendiri. Itu dimaksudkan agar dengan bantuan mereka umat beriman bisa mengagumi kebenaran yang mengagumkan yaitu Injil (Veritatis Splendor, 1993). Hal itu dipuncaki dengan terbitnya surat apostolic Ad Tuendam Fidem (1998) yang artinya “demi mempertahankan iman”. Hidup dan karya setiap orang beriman, apalagi para teolog, harus diarahkan kepada titik tuju itu. Mereka dituntut untuk berpikir kreatif. Tetapi kreatifitas harus diabdikan ke tujuan mulia itu. Harus diingat bahwa umat di akar rumput menghendaki satu landasan stabil. Mereka tidak mau digoncangkan oleh perdebatan teologis yang tidak perlu. Umat di akar rumput, seperti saya, ingin menghayati iman itu dengan penuh kasih dan kesetiaan sederhana sambil memandang ke atas yaitu ke para teolog dengan penuh kekaguman karena mereka mengarahkan pikiran dan kesadaran kita akan hal-hal di surga tinggi.

Kiranya Kueng sudah melaksanakan panggilan tugasnya dengan baik walau penuh dengan jatuh dan bangun. Itu sangat manusiawi. Maka doaku bergema: Requiescat in Pace, Prof. Hans!

Fransiskus Borgias, Pengajar Teologi, Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung

(HIDUP, No.17, Tahun ke-75, Minggu, 25 April 2021)

1 COMMENT

Leave a Reply to fransiskus+borgias Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here