Theresia Lisieux, Sang Missionaris Cinta

613
Ketika Theresia memerankan Joan de Arc.
5/5 - (3 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – SERATUS dua puluh lima tahun sudah sejak kematian Theresia, namun hingga kini seolah ia masih terus hidup di Desa Lisieux Perancis. Bangunan-bangunan saksi bisu kehidupannya dapat ditemui di Lisieux, mulai dari rumah yang ditinggalinya bersama keluarga, gereja tempat ia dan keluarganya selalu merayakan Ekaristi, biara tempat ia pernah hidup, hingga tempat ia dimakamkan.

Sejak dibeatifikasi pada 1925, Gereja Katolik memperingatinya setiap 3 Oktober dan sejak 1969 diubah menjadi 1 Oktober. Dialah Santa Theresia dari Lisieux atau yang juga dikenal sebagai Theresia dari Kanak-kanak Yesus atau The Little Flower of Jesus (Perancis: la petite Thérèse). Di berbagai sudut jalan dan bangunan pun terdapat banyak patung Santa Theresia. Di tempat ada patung dan relikuinya, di situ pula bertebaran bunga mawar. Persis seperti yang pernah dikatakannya, “Dari surga aku akan menurunkan hujan mawar.“

Periode Pertama

Theresia dilahirkan dengan nama Marie Françoise-Thérèse Martin di Rue Saint-Blaise, Alençon Perancis pada 2 Januari 1873 dari pasangan Marie-Azélie Guérin (Zélie), seorang pengrajin renda dan Louis Martin, seorang pengrajin perhiasan dan pembuat jam. Dua hari setelah kelahirannya, ia dibaptis di Gereja Notre-Dame, Alençon. Zelie dan Louis menjadi pasangan menikah pertama yang dikanosisasi Gereja Katolik secara bersamaan. Kanonisasi tersebut dilakukan pada 2015 oleh Paus Fransiskus. Theresia merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara. Empat saudaranya meninggal dunia di usia balita, hingga di antara mereka tersisa 5 orang anak perempuan, yaitu Marie (dijuluki berlian), Pauline (mutiara yang mulia), Leonie, Celine (si pemberani) dan Theresia (ratu kecil). Pada akhirnya mereka berlima menjadi biarawati, 4 di antaranya bergabung dalam Ordo Karmel di Lisieux. Ya, keluarga ini telah memulai kekudusan di Lisieux yang mempengaruhi hidup beriman umat Katolik tidak hanya di Perancis, namun juga di berbagai belahan negara lain.

Sebelum bertemu, Louis dan Zelie telah terbiasa menjalani ketaatan dalam hidup beriman sebagai penganut Katolik. Mereka bertemu awal 1858 dan menikah tahun yang sama pada 13 Juli. Sejak 1865 diketahui bahwa Zelie menderita kanker, namun di sisi lain bisnisnya berjalan begitu sukses. Hingga pada 1870 Louis menjual usaha perhiasan dan jam tangan miliknya kepada keponakannya kemudian mendukung bisnis Zelie untuk hal pembukuan. Dalam derita sakit yang dialami Zelie dan kesuksesan bisnis renda yang dimiliki, mereka hidup sebagai orang tua Katolik yang begitu taat, dengan mengajarkan anak-anak mereka untuk berdoa dan merayakan Ekaristi setiap hari, menolong orang yang kesulitan dan beramal.

Kamar masa kecil Theresia dari Lisieux (Foto: Sr Bene Xavier, MSsR)

Zelie berziarah ke Lourdes pada Juni 1877, berharap untuk dapat memperoleh mukjizat kesembuhan. Namun kenyataan berkata lain, ia meninggal dunia pada 28 Agustus 1877 di usia 45 tahun. Peristiwa kematian Zelie telah mengubah kehidupan Theresia kecil yang saat itu berusia 4 tahun. Ia yang semula periang dan bersifat terbuka, berubah menjadi pemurung dan sangat sensitif. Ingatan akan ibunya yang menderita di atas tempat tidur dan menerima Sakramen Perminyakan di akhir hidupnya, terekam kuat dalam ingatannya yang membuatnya merasakan kesedihan mendalam. Sejak itu, peranan sang ibu digantikan oleh kakaknya, Pauline. Itulah periode pertama dalam kehidupan Theresia.

Periode Kedua

Setelah kematian Zelie, Louis menjual bisnis renda mereka dan tiga bulan setelahnya, ia memutuskan membawa anak-anaknya pindah ke Lisieux, wilayah Calvados Normandia Perancis. Di sana tinggal pula Isidore Guerin, saudara dari Zelie yang tinggal bersama istri dan dua anaknya. Louis menyewa sebuah rumah di pedesaan yang cantik, berada pada lereng perbukitan yang menghadap ke kota. Tempat ini bernama Les Buissonnets. Disinilah era hidup baru mulai dialami oleh Theresia.

Sejak kematian ibunya, Theresia menjadi begitu dekat dengan Celine dan ia diasuh oleh Pauline. Di usia 8 tahun, Theresia masuk sekolah yang diasuh oleh para suster Benediktin. Ia cukup berprestasi di sekolah, kecuali dalam hal menulis dan berhitung. Karena prestasinya inilah, ia sering mendapat tekanan dari kakak kelasnya yang kurang berprestasi. Dalam tekanan ini seringkali ia menyendiri dan menangis. Hiburannya adalah ketika ia bermain bersama sepupunya, Marie Guerin. Mereka bermain peran seolah sebagai pertapa yang hidup di biara.

Kesedihan baru dialami Theresia ketika ia berusia 9 tahun dan Pauline memilih untuk masuk biara Karmel. Lagi-lagi ia kehilangan sosok ibu. Memori akan peristiwa kehilangan ibunya terkuak kembali dan menimbulkan kesedihan baru bagi Theresia. Ia pun semakin menjadi pemurung dan ingin mengikuti kakaknya untuk masuk biara Karmel, namun saat itu usianya masih terlalu muda. Theresia pun terkesan pada Sr. Marie Gonzague yang saat itu berlaku sebagai pimpinan biara tempat Pauline bergabung. Marie Gonzague menghibur Theresia dengan mengatakan “Kaulah putri kecil masa depanku.“

Les Buissonnets, rumah yang ditempati Theresia bersama ayah dan saudarinya di Lisieux (Foto: Sr. Bene Xavier, MSsR)

Pada masa ini Theresia mulai sakit-sakitan, ia mengalami scruples dan serangan neurotik, yaitu berupa tremor saraf terlebih di saat mengalami frustasi emosional. Ketika serangan itu terjadi, badannya gemetar dan giginya gemertak seperti orang kedinginan sampai kesulitan berbicara. Suatu malam ia berdoa di depan patung Bunda Maria yang ada di rumahnya, tempat mereka biasa berdoa bersama di depan patung tersebut. Kala itu 13 Mei 1883, usai berdoa Theresia melihat patung Bunda Maria tersenyum kepadanya. Ia menuliskan pengalamannya tersebut, “Bunda Maria telah datang dan tersenyum kepadaku. Aku sangat bahagia.“  Theresia menerima kondisi sakitnya dengan penuh iman sebagai suatu bentuk kemartiran.

Belum hilang dari kesedihan akibat kehilangan Zelie dan Pauline, lagi-lagi Theresia harus mengalami suatu kehilangan. Marie, kakak tertuanya pun menyusul Pauline untuk masuk biara Karmel.

Periode Ketiga

Theresia mengalami suatu pertobatan pada malam natal 1886. Ia menghadiri Misa malam Natal bersama ayahnya, Leonie dan Celine di Katedral Santo Pierre (Petrus) di Lisieux. Dalam pengalaman rohaninya ia merasa bahwa Yesus yang hadir dalam sosok seorang bayi mungil, telah membuatnya terbebas dari balutan lampin masa kecil yang suram untuk menjadi manusia baru. Setelah sembilan tahun hidup dalam kesedihan, kini Theresia memiliki semangat baru dan menemukan kembali kekuatan jiwa yang sempat hilang.

Theresia mulai menggemari kebiasaan membaca buku-buku rohani, diantaranya The Imitation of Christ, The End of This World dan The Mysteries of The World to Come juga buku-buku sejarah dan sains.

Mei 1887, ketika Theresia berusia 14 tahun, ia mendekati ayahnya di taman belakang rumah mereka dan mengungkapkan keinginannya untuk masuk biara Karmel menyusul kakaknya, Pauline dan Marie. Lalu mereka berdua menangis. Ayahnya mencabut sekuntum bunga putih dan memberikan padanya. Theresia merasa bahwa hidupnya ditakdirkan bagai bunga tersebut, yaitu untuk hidup di tanah lain. Sayangnya, keinginan Theresia untuk bergabung dengan biara Karmel ditolak pimpinan biara karena usianya terlalu muda.

Louis membawa Celine dan Theresia ke Roma Italia untuk perayaan yubileum Paus Leo XIII pada 20 November 1887. Inilah kali pertama dan terakhir bagi Theresia pergi ke luar negaranya. Dalam kesempatan audiensi umum dengan Paus, ia menyampaikan keinginannya untuk masuk biara Karmel dan meminta agar Paus memberinya dispensasi atas usianya yang masih terlalu muda. Paus menasihatinya untuk mengikuti apa kata superior biara. Apabila Tuhan menghendakinya, tentu Ia akan memberkati dan menunjukkan jalan baginya. Pada akhirnya, Uskup Bayeux memberi wewenang pada superior biara Karmel untuk menerima Theresia. Ia pun memulai masa postulan dalam biara Karmel Lisieux pada 9 April 1888 di usia 15 tahun.

Periode Keempat

Theresia menjalani kehidupan religius di biara Karmel dengan sangat ketat, selain mengenakan jubah, kain putih penutup, ikat pinggang kulit, rosario, sandal tali, kerudung serta skapulir, mereka juga hanya makan satu kali sehari selama tujuh bulan dalam setahun. Theresia menyadari panggilannya untuk mendoakan jiwa-jiwa yang rapuh serta para imam di seluruh dunia. Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana di dalam biara dengan penuh kesabaran dengan penghayatan bahwa ia melakukannya bagi Yesus.

Ia pun sangat rendah hati menjalani kehidupannya di biara, termasuk ketika sering mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari suster seniornya. Hal-hal inilah yang baginya merupakan jalan cinta. Ia menganggap bahwa panggilan hidup setiap manusia adalah untuk mencintai. Selama di biara, Theresia juga banyak membaca buku-buku karya tokoh-tokoh Karmelit, seperti Santo Yohannes dari Salib dan Theresia Avila.

Pada kemudian hari, Celine pun turut masuk dalam biara Karmel. Padahal sebenarnya peraturan biara Karmel melarang adanya suster yang memiliki hubungan darah dalam satu biara. Tetapi, karena niat yang begitu besar dari anak-anak Zelie dan Louis, sehingga 4 anak mereka berada dalam satu biara (Marie, Pauline, Celine dan Theresia) serta sepupu mereka Marie Guerin. Celine merupakan salah satu suster yang agak berbeda. Ia memohon pada superior agar diizinkan membawa kamera di dalam biara. Tentu saja pada masa itu memiliki kamera merupakan hal yang sangat eksklusif. Celine memanfaatkan kameranya untuk memotret banyak hal di biara. Di kemudian hari terbukti bahwa apa yang dilakukan Celine bermanfaat bagi Karmel dan dunia untuk dokumentasi sejarah yang ada di dalam  biara Karmel Lisieux.

Salah satu dokumentasi hasil jepretan kamera Celine adalah ketika Theresia memerankan tokoh Joan de Arc dalam sebuah pementasan teater. Saat itu tahun 1894, di Perancis sedang diadakan perayaan nasional mengenang Joan de Arc. Theresia menulis dua skenario dan memerankan tokoh Joan de Arc.

Kehidupan rohani dan spiritual Theresia semakin matang. Ia pun menuliskan pengalaman rohaninya dalam sebuah buku berjudul Kisah Suatu Jiwa. Buku tersebut kini telah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia (Aku Percaya akan Cinta Kasih Allah).

Makam Theresia di dalam biara Karmel selalu dipenuhi bunga dan ramai dikunjungi peziarah.

Hidupnya di biara tidaklah lama, hanya 9 tahun ia bertahan. Penyakit TBC (tubercolosis) menyerangnya dan merenggut nyawanya. Sebelum wafat ia mengatakan, „Dari surga aku akan berbuat kebaikan bagi dunia.“ Theresia meninggal pada 30 September 1897 di usia 24 tahun. Hingga kini banyak mukjizat terjadi melalui perantaraannya. Hal ini dapat terlihat di biara Karmel Lisieux dari banyaknya panel ucapan syukur pada Theresia atas mukjizat yang dialami. Ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI pada 9 April 1923 dan kanonisasinya pada 17 Mei 1925.

Gereja Katolik memberinya gelar Doktor Gereja dan mengangkatnya sebagai pelindung misi, meskipun Theresia bukanlah orang yang pernah melakukan misi ke luar negeri. Misinya adalah misi cinta. Baginya hidup harus diisi dengan cinta dan mencintai Tuhan berarti mencintai sesama. Kesederhanaan, ketaatan dan ketulusannya berbuat baik bagi sesama dengan penuh cinta telah membuktikan bahwa bermisi bukan melulu soal pergi ke tempat yang jauh, tapi justru bisa dilakukan lewat hal-hal sederhana yang bisa dilakukan dari dalam biara.

Kini Lisieux menjadi tujuan ziarah kedua di negara Perancis setelah Lourdes. Jika kita berziarah ke Lisieux, kita dapat mengunjungi biara Karmel dan menemukan makam Theresia; Katedral Saint Pierre, tempat dahulu Theresia sekeluarga selalu pergi misa dan di sana terdapat altar persembahan dari Louis; Les Buissonnets yang merupakan rumah tinggal Theresia di masa kecil; serta Basilica Theresia yang amat megah dimana juga terdapat makam kedua orang tuangnya, Zelie dan Louis.

Dikisahkan dari Lisieux Perancis – Sr. Bene Xavier, MSsR

HIDUP, Edisi No. 40, Tahun ke-76, Minggu, 2 Oktober 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here