Kisah Pahlawan tanpa Pendamping

167
Rate this post

Suster Priska merefleksikan, menjadi bidan adalah soal panggilan. Di pelosok, seorang bidan kadang harus bekerja sendiri. Masyarakat percaya, bahwa penyakit apapun bisa disembuhkan bidan, meski dalam kenyataannya harus membutuhkan dokter. “Memang melayani sebagai bidan tidak buat anda kaya, tetapi bidan itu telah menyelamatkan banyak nyawa” ungkapnya.

Pelayanan Standar
Pengalaman yang dialami keluarga menjadi alasan mengapa Theresia Yuliati memilih berprofesi menjadi bidan. Seorang tantenya pernah meninggal karena tidak ada tenaga medis di kampung halamannya, Desa Dempar, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur (Kaltim). Sejak peristiwa naas itu, Theresia bertekad ingin menjadi bidan. Setelah tamat SMA Negeri I Sendawar, Melak, Theresia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Kesehatan St Elizabeth Medan, Sumatera Utara. Ia pun lulus tahun 2007.

Kini wanita murah senyum ini bertugas sebagai bidan di kampung halamannya, Puskesmas Dempar. Theresia mengakui, salah satu tantangan pelayanan di Dempar adalah kurangnya pemahaman dan fasilitas pelayanan. Rata-rata masyarakat Dempar adalah petani dengan tingkat pendidikan hanya sampai SMP. Bagi mereka kesehatan itu urusan sekian, sebab paling penting adalah mencari uang. Orangtua tidak ingin anak-anak bernasib sama dengan mereka.

Hal ini bisa dilihat dari ketidaksadaran mereka membawa orang sakit ke bidan. Untuk alasan kesehatan, orangtua sulit mengeluarkan uang. Namun untuk hal lain, mereka bersedia mengutang. Dalam urusan pendidikan, masyarakat memang sudah sangat “melek”. Hanya saja, menurut Theresia, saat seseorang sudah lulus perguruan tinggi atau sarjana, mereka enggan pulang kampung. “Lebih enak merantau di perkotaan daripada pulang kampung,” jelas Theresia.

Theresia mengakui, pelayanan kesehatan di Dempar sangat standar. Ruang gawat darurat di Puskesmas pun belum memenuhi kriteria pelayanan. Sementara untuk mendapatkan pelayanan terpadu di perkotaan, masyarakat harus menempuh jalan kurang lebih tiga jam dengan mobil. Itu pun jalannya tidak layak-berlubang, dan bebatuan. “Bila ibu hamil sudah kontraksi melewati jalan itu, dipastikan langsung melahirkan,” seloroh Theresia.

Keuskupan Agung Samarinda beberapa kali mengadakan kegiatan pelayanan kesehatan namun bukan menjadi sebuah program berkelanjutan. Paroki-paroki di Kabupaten Kutai Barat juga beberapa kali mengadakan penyuluhan kesehatan, tetapi setelah kembali masyarakat kembali dengan gaya hidup mereka.

Theresia menyadari, melayani sebagai bidan di pedesaan butuh tenaga ekstra dan tidak perlu banyak mengeluh. Secara terbuka, Theresia mengatakan, gaji yang didapat pun tidak sama dengan teman-temannya yang berstatus PNS. Ia bercerita, rata-rata mereka mendapat tunjangan fasilitas. Sebagai seorang bidan dengan status pegawai tidak tetap, fasilitas semacam itu bagai jauh “panggang dari api” baginya. Ia berkeluh, gaji dari pemerintah pun sering telat. Sementara itu, paroki yang awalnya menawarkan dia untuk membantu kesehatan pun membantu sesuai kemampuan. “Tetapi itu pelayanan. Nilai utamanya adalah saya menyelamatkan banyak nyawa di kampung saya sendiri.”

Perhatian Gereja
Di Keuskupan Amboina, tepatnya Kota Dobo, Kepulauan Aru, pengalaman melayani desa terpencil juga dialami bidan Oliva Rahalus. Kelahiran Tual, Maluku Tenggara, 6 Juni 1991 ini mengalami bagaimana harus melewati selat dalam melayani masyarakat di daerah-daerah terpencil di wilayah Aru Utara.

Bukan perkara muda bagi lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Ambon ini sebab dirinya mengaku tidak bisa berenang. Supaya tiba di daerah dengan selamat, Oliva harus rela mendorong speed boat. Bila selat tidak bersahabat, tumpangannya harus menepi beberapa jam bahkan pernah dua hari tidur di bibir pantai. Ia juga kerap mendapat ancaman dari masyarakat setempat. “Masih banyak yang merasa terusik bila ada pendatang yang masuk kampung mereka,” jelasnya.

Oliva tak menyangka, nasib membawanya sebagai bidan di pelosok, di mana masyarakat belum yakin dengan pengobatan gratis dan sejenisnya. Belum lagi, ia harus menghadapi pola pikir masyarakat yang berbeda soal kesehatan. “Banyak beranggapan kalau disuntik badan jadi panas. Kadang obat yang diminum tidak mampan sebab anak tetap sakit. Minum akar kayu atau daun tertentu bisa sembuh daripada minum obat,” cerita Oliva.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here