Renungan Selasa, 4 Oktober 2016 : Spiritualitas Kerja

89
[christofgrace.wordpress.com]

HIDUPKATOLIK.comPW St Fransiskus dari Assisi; Gal 1:13- 24; Mzm 139; Luk 10:38-42
KERANGKA perbedaan sikap keagamaan yang ditunjukkan perumpamaan “Orang Samaria yang murah hati” dilanjutkan dalam kisah “Maria dan Marta” (Luk 10:38-42). Bila sosok orang Samaria itu adalah cerminan pribadi yang mencintai sesama, maka pada sosok Maria ditunjukkan gambaran orang yang mementingkan kasih kepada Allah. Sedangkan tokoh Marta memiliki kemiripan dengan sosok imam dan orang Lewi. Mereka lebih dahulu melihat dirinya sendiri ketimbang mengikuti kehendak Tuhan.

Marta memang ingin memberikan service kepada Yesus sebagai tanda kemuridan. Namun ia melakukan atas dasar pikiran dan pandangannya sendiri sehingga ia begitu fanatik sampai-sampai beranggapan bahwa mereka yang tidak melakukan seperti yang dikerjakannya dianggap tidak pantas menjadi murid Yesus. Sebaliknya Maria memposisikan diri sebagai murid yang mendengarkan dan siap belajar (bdk. Luk 8:35; Kis 22:3). Dalam tradisi Kitab Suci, mendengarkan Sabda Tuhan menjadi sebuah nilai dan keutamaan yang tidak bisa diambil oleh orang lain. Inilah makna perkataan Yesus, “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (ay. 42).

Perikop ini mengingatkan bahwa setiap tindakan seorang Kristen harus didasarkan pada kesatuan diri dengan Yang Mahakuasa, bukan atas dasar logika atau filsafat hidupnya sendiri. Inilah makna dari contemplativus (a) in actione, ‘berkontemplasi dalam kerja’.

Henricus Witdarmono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here