Pastoral Lain di Tengah Umat

261
Rate this post

Pencapaian-pencapaiannya tidak pernah mengubah Pastor Magnis. Ia masih tetap menjadi imam yang sederhana. Seumur hidup, ia belum pernah memiliki rekening bank. Baginya, sebagai seorang imam, tidak mempunyai rekening bank sebenarnya adalah hal biasa. “Kami punya kaul kemiskinan, di situ termasuk bahwa kami tidak menguasai uang sama sekali, tidak boleh mempunyai suatu kemantapan finansial masing-masing,” ujarnya.

Pada satu kesempatan, Bruder Pri SJ menceritakan, saat masih menjadi ekonom di Kolese Hermanum, Jakarta ia selalu menerima laporan keuangan dari Pastor Magnis. “Tiap bulan Romo Magnis selalu melaporkan keuangannya ke saya. Jika ada yang ia butuhkan, ia akan menyampaikannya ke saya.” Mengomentari hal ini ia berujar, “Laporan keuangan saya buat setiap tiga bulan. Itu biasa bagi saya, tidak ada yang istimewa, bukan sesuatu yang luar biasa,” ungkap Pastor Magnis sambil tertawa.

Kedisiplinan Pastor Magnis juga tampak dari kesetiaannya makan bersama di komunitas. “Saya anggota komunitas dan perlu makan, tentu saja saya makan di komunitas, kecuali diundang di luar.”

Pastor Magnis mengatakan ia percaya pada panggilannya. “Dengan mengikuti Tuhan, para imam boleh percaya bisa menjadi bahagia, boleh percaya bahwa dengan menyerahkan diri sepenuhnya tidak akan kecewa tetapi malah gembira,” ungkapnya.

Pater Wilfrid, Pater Heuken, dan Pastor Magnis, hanya segelintir imam Katolik yang begitu menginspirasi. Di beberapa keuskupan lain, ada juga nama-nama imam lain yang dengan minat dan niatnya berkontribusi di tengah masyarakat saat ini. Di Desa Tutur Nangkojajar, Pasuruan, Jawa Timur, Pastor Willy Batuah, CDD memperkenalkan budidaya taman hias dan bunga potong kepada para petani setempat. Selain memberdayakan para petani, ia juga mendirikan credit union. Di Magelang, Jawa Tengah, Pastor Vincentius Kirjito berhasil melakukan kampanye yang mengakhiri penambangan pasir di sana. Peraih Maárif Award 2010 ini juga tengah mempromosikan pemanfaatan air hujan di tengah masyarakat.

Hermina Wulohering/Yanuari Marwanto

HIDUP NO.21 2019, 26 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here