Siapa Suruh Jadi Buruh?

229
5/5 - (2 votes)

Menurut Lily, saat di Indonesia, ia dijanjikan akan bekerja di rumah sakit untuk merawat seorang kakek. Namun, kenyataan berkata lain. Ia dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan sayur. Tak tahan dengan pekerjaan itu, ia berontak dan minta dipulangkan ke Tanah Air.

Malang, tak hanya permintaannya ditolak. Lily juga seakan tak berhak atas dirinya sendiri. Semua dokumennya ditahan oleh majikan dengan alasan, mereka telah membayar ke pihak agen.

Lily kemudian diserahkan ke agen lain dan disebut berutang sebesar Rp 270 juta. Di tangan agen baru, ia dan beberapa teman dipekerjakan di sebuah bar sebagai waitress yang bertugas mengantar makanan dan minuman. “Di situ kami diperlakukan sangat tidak manusiawi, mengenakan pakaian minim, dan dipaksa melayani pengunjung,” ujar Lily saat dijumpai di kediamannya di Pisangan, Jakarta Timur, Rabu, 24/4.

Meski demikian, Lily mengaku ia dan teman-temannya selalu menolak permintaan itu. Akibatnya, mereka dipindahkan. “Semula kami tinggal di tempat yang disewakan, semacam apartemen. Namun, karena kami menolak ‘melayani’ pengunjung, kami diharuskan tidur di gudang belakang yang tak layak huni. Tempat itu bersebelahan dengan tempat pembuangan sampah,” ujarnya.

Ada rasa ingin kabur dari tempat itu. “Namun, tentu itu tidak mungkin terjadi sebab di depan sudah ada algojo yang mengawasi kami,” tambahnya. Perlakuan tak manusiawi ini tidak berhenti sampai di situ. Jangankan menerima gaji, makan saja ia dan teman-temannya harus menunggu sisa-sisa makan pengunjung. Penolakan akan ketidakadilan ini terus ia tunjukkan. Ia bahkan diludahi.

Dua bulan setelahnya, Lily dijual lagi ke agen lain. Ia dipekerjakan di rumah bordil sebagai cleaning service. Bekerja di tempat baru ini, ia mendapatkan perlakuan lebih tak manusiawi. Pernah suatu ketika, dua tamu memaksanya untuk melayani mereka. Karena menolak, ia ditendang, kepalanya diinjak dengan sepatu, lalu ia dikencingi.

Perlakuan ini menorehkan luka batin yang begitu mendalam baginya. Lily menyebutnya sebagai pengalaman “paling pahit”. Ia dihukum bukan hanya karena menolak permintaan tamu. “Untuk mengambil makan, kami harus merangkak seperti binatang, tendangan dan pukulan sudah jadi makan minum setiap hari. Sampai terakhir kepala saya digunduli,” ungkapnya.

Derita Lily tak berakhir di situ. “Dari sana saya dijual lagi, kali ini ke perkebunan. Selama itu passport saya ditahan; ya ibaratnya saya adalah barang dagangan yang diperjualbelikan seenaknya oleh agen,” ujarnya.

Kali ini, keberaniannya mulai terkumpul. Lily dengan paksa meminta passportnya dari sang mandor. Namun, sekali lagi ia harus menelan kepedihan. Tak terima, agen melaporkannya ke pihak kepolisian dengan tuduhan pencurian. Tanpa melalui persidangan, ia dijebloskan ke penjara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here