Siapa Suruh Jadi Buruh?

229
5/5 - (2 votes)

Lily mengaku ini adalah awal mukjizat baginya. “Puji Tuhan, di penjara, saya titipan dan tidak pernah diperlakukan buruk, justru diperlakukan sangat baik,” kata Lily. Ia mengisahkan, di sana ia membantu bersih-bersih, mencuci baju nara pidana dan menerima bayaran untuk itu.

Ketika akhirnya dibebaskan dari penjara, Lily pun dipulangkan ke Indonesia. Tak ada satu rupiah pun yang ia hasilkan dari sana, kecuali bayaran atas jasa binatunya di penjara. Uang itu ia simpan baik-baik agar tak diambil agen seperti yang dialamai teman-temannya. Uang itu ia lakban di telapak kakinya.

Ia tahu, di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, agen menggeledah tas pekerja migran yang pulang ke Indonesia. Agen itu beralasan, pekerja itu masih berhutang kepada merka.

Menjadi Aktivis
Hanya 11 bulan Lily menjadi buruh migran di Taiwan. Namun derita yang ia alami begitu panjang. Ia bukan tak berusaha untuk keluar dari jeratan human trafficking ini. Lily sempat mengadu ke Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia
– perwakilan dagang di Taipei yang menjalankan fungsi-fungsi kedutaan
– namun keluhnya dijawab oleh salah seorang staf dengan menyakitkan. “Salah sendiri, siapa suruh kamu mau kerja di Taiwan?”

Begitu tiba di Indonesia, Lily berkenalan dengan aktivis-aktivis yang memperjuangkan hak buruh migran. Ia pun tergerak untuk ikut bersuara karena pernah mengalami sendiri ketidakadilan itu. Sejak tahun 2002, ia bergabung dengan beberapa komunitas antara lain Serikat Buruh Migran Indonesia dan Sanggar Ciliwung Merdeka. Banyak hal yang ia pelajari di sana. Ia ikut mengawal deportasi dari Malaysia ke Indonesia dan ditugaskan mengawal pemulangan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Lily sempat mengalami stroke sehingga berhenti dari kegiatan aktivis. Namun, ketika setahun setelahnya ia sembuh total, ia memutuskan untuk membaktikan hidupnya untuk menolong para pekerja migran yang menjadi korban ketidakadilan. Bersama beberapa rekan, ia mendirikan lembaga bernama Peduli Buruh Migran dan menjadi koordinatornya.

Sebuah rumah singgah disediakan oleh Peduli Buruh Migran tidak jauh dari tempat tinggal Lily saat ini, Pisangan, Jakarta Timur. Rumah singgah ini difungsikan bagi para buruh yang pulang ke Tanah Air dengan masalah; menjadi korban perdagangan manusia. Peduli Buruh Migran akan membantu proses pemulihan dan pemulangan mereka. Sejak didirikan 11 tahun silam, Lily mengaku tak terhitung jumlah buruh migran yang pernah ditampung di sana. “Tahun 2016 hingga pertengahan 2018 saja sekitar 7800 orang yang kami bantu di sini, hanya memang kami tidak terekspos,” ujarnya. Dari seluruh buruh migran, ia menyebutkan paling banyak berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, sementara
penempatannya paling banyak yang di Arab Saudi.

Peduli Buruh Migran adalah lembaga nirlaba yang gerakannya dibantu oleh para volunter. Lily mengatakan kebanyakan mereka adalah para biarawati antara lain dari Suster-suster Gembala Baik dan Ordo Santa Ursula. Tidak hanya membantu mendampingi, para suster juga membantu mencarikan sembako. Ia mengakui tak mudah mencari dana bagi misi kemanusiaan ini. Saat awal didirikan pun, rumah singgah ini sempat menuai kontroversial dari masyarakat setempat yang menuding adanya Kristenisasi. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat kini menerima dan mendukung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here